Herwita S. Rosalina: Menjadi Petani Organik Mendekatkan Tujuan Hidup Saya

Herwita S. Rosalina: Menjadi Petani Organik Mendekatkan Tujuan Hidup Saya
Kisah Sukses

Menjadi petani awalnya bukan cita-citanya. Perempuan dari desa Desa Claket, Kecamatan Pacet, Mokjokerto, Jawa Timur ini sebelumnya telah menjalani beberapa profesi.

Namun Alumnus Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini kini telah mantap menjadi petani sebagai pilihan hidupnya. Namanya Herwita S. Rosalina. Perempuan yang suka traveling dan memasak ini mengaku, dengan menjadi petani, saya merasa dekat dengan tujuan hidup saya yakni bermanfaat bagi banyak orang dan juga alam semesta.

“Bumi dan alam semsesta ini perlu keseimbangan. Seimbang antara mengambil dan mengembalikan kebaikan pada alam, juga seimbang antara yang membutuhkan pangan dan penyedia pangannya, “katanya.

Saat ini ia menggarap lahan seluas 3000 meter persegi di kampungnya. Lahan seluas itu ia tanami sayuran dan tanaman herbal. Sampai saat ini, ia telah menanam 51 jenis sayuran. Diantaranya kubis merah, kubis putih, lettuce, kacang tanah, kailan, kale, horenzo, ercis, bayam, cabe rawit, brokoli, wortel dan lainnya.

Sementara 7 tanaman herbal yang ia tanam diantaranya adalah daun dill, daun mint, daun thyme, seledri, bawang re, bawang merah dan basil sweet.

Semua sayur dan tanaman herbal lainnya itu ia tanam secara organik.

Wita, nama panggilannya, sangat menikmati aktivitas di kebun miliknya. Menurutnya ketika bekerja di kebun, ia bisa menjadi dirinya sendiri, menuangkan imajinasi dalam ide-ide kreatif dengan sepenuh hati.

Ia menyadari, sebagai petani tantangan yang dihadapi cukup berat. Salah satunya adalah mengubah mindset para petani yang menganggap petani adalah pekerjaan remeh yang mengandalkan kekuatan fisik semata.

Padahal sebenarnya justru sebaliknya. Menurutnya, menjadi petani juga dituntut untuk bisa mempunyai ide-ide kreatif dan mental yang kuat.

Selain itu mayoritas petani saat ini kondisinya sangat tergantung pada tengkulak, sehingga harga jual produk yang dihasilkan murah, bahkan kadang tidak bisa dipakai untuk menutup biaya produksi.

Hal ini dianggap Wita sebagai salah satu faktor kenapa profesi petani dianggap tak punya masa depan, sehingga tak terjadi regenerasi.

Karena itu ia mengedukasi para petani di wilayahnya. Saat ini ia membina dua kelompok petani muda yang beranggotakan 15 orang. Dan dua kelompok wanita tani yang masing-masing anggotanya 20 – 30 orang.

Bentuk edukasi yang ia lakukan berupa sharing informasi mulai dari ilmu dasar soal pertanian sampai pada membimbing dan membentuk pola usaha pertanian organik. Sehingga usaha pertaniannya dapat mandiri dan berkelanjutan.

Produk hasil pertanian organik di kebunnya yang ia namai Twelve’s maupun dari petani-petani binaan, dipasarkan ke beberapa wilayah di Surabaya, Sidoarjo dan Mojokerto. Ia menjual langsung ke konsumen.

“Sebagian besar adalah end-user: ibu rumah tangga, ibu muda, wanita-wanita karier, dan ada juga cancer survivor. Selebihnya ke supermarket di Surabaya.

Rencananya ia akan terus berjuang untuk semakin memajukan potensi pertanian dan sumber daya manusia, terutama anak muda dan perempuan yang ada di desa Claket melalui pertanian organik.

Karena aktivitasnya ini, perempuan yang ngefans sama Bu Risma, walikota Surabaya ini menjadi salah satu finalis Duta Petani Muda 2018.

Sumber: trubus.id

Tentang Admin Indopoltry

Indopoltry.com - Portal Media Informasi & Direktori Usaha Peternakan dan Pertanian Indonesia.